Friday, November 03, 2006

Orang-orang dewasa yang lain

Orang-orang dewasa yang lain:

1. Tiga orang piraten merampas jualan pempekku

2. Te' menyuruh aku membuka sepatunya

3. Dipukul oleh Akiong ketiga aku

4. Aguan selalu mau memukul aku /ancaman bahaya

5. Ancaman bahaya dari Yusuf cs

6. Dipukul oleh Cin Yang di kelas 5 SD

7. Dikejar oleh segerombolan huan na

8. Akaw membawa aku mengantar busa keliling dengan mobil datsun, menyuruh aku duduk di ujung mobil menjaga busa supaya tidak jatuh.

9. Hampir digasak oleh truk ketika membawa Aheng jalan-jalan

10. Diintai oleh tukang pempek atas suruhan Ahau

11. Dicubit oleh Jawo dengan kakinya, sakit sekali

12. Adik O'Junaidi dipukul oleh pak Amin dengan sepatu

13. Tukang mencari anak lelaki kecil yang merusak diriku, tinggal dekat tempat Effendy Li Sugianto
Umurku saat itu 14 tahun, kelas 2 SMP. Dia memanggil aku Akui

14. Pak Toha 1: mau membakar aku dengan korek api

15. Pak Toha 2: Menyuru aku membuat papa absen

16. Sehuat 1: membetet aku dengan karet sakit sekali

17. Sehuat 2 : menuruh aku mengangkat batu bata yang berat

18. Kartu judi keluar dari kantong belakang tanpa sengaja

19. Dituduh mencuri jinamo oleh Akeng

20. Abin memandang kami dengan aneh saat kami (aku dan Aheng) bermain di luar), menebarkan kalong (karung goni)

21. Dilihat oleh Ji Long saat adu lanciu dengan Karno anak pembantu Ji Long

22. Aho, Akeng dan Asien membagun rumah yang bagus. Aku ingin ikut bermain namun disudutkan dan disuruh pulang

23. Mama Ote tidak menghendaki aku bermain dengan anaknya dan tidak menghendaki aku masuk ke rumahnya

24. Leng Cua So menyuruh aku pulang ketika aku bermain dengan Apin. Dia bilang tunggu Apin besar dulu baru ajak main

25. Pak Simanjuntak guru Matematika di SMP DB 1 dengan bangga menceritakan bahwa dia punya murid di SMA 3 jurusan IPA karena disuruh ke papan tulis tidak bisa menuliskan yang dia inginkan langsung dikeluarkan dari jurusannya.

26. Di rumah pasat ma aku sering dimarahi oleh Kahar bahwa di dalam diriku ada Mokui, jahat dan busuk hati.

27. Sewaktu pertengkaran antara Alok dan kel. Akeng aku ikut campur dan memihak keluarga Alok. Kejadian ini menimbulkan rasa malu dan rasa bersalah yang lama sekali baru hilang.

28. Aku dengan adik O Junaidi di pukul oleh pak Amin dengan sepatunya. Aku pernah lihat sendiri pak Amin mau menampar adik O Junaidi.

Soy Moy Penglek

Soy Moy Penglek:

1. Sewaktu A'mm mau kasih aku kue Soy Moy melihat aku terus sehingga aku tidak berani mengambilnya, sebang dia juga sering mengejek aku tiong cia karena A'm sering kasih makanan padaku.

2. Aku merasakan rumah A'm seperti rumah sendiri. Soy Moy yang baru di sana tidak mau menerima aku karena aku bukan anggota keluarga mereka namun cuma tetangga. Dengan segala cara dia berusaha menyingkirkan aku dari tempat A'mm.

3. Sewaktu bermain dengan Soy Moy dan Asien dia merasa tidak senang terhadap diriku dan memarahi aku.

Ibu SD Harapan

Ibu SD Harapan:

1. Ibu SD Harapan (mama Agus) jahat memukul aku dengan pengaris di depan pintu lokal (ruang kelas)

Ibu Awa

Ibu Awa:

1. Ibu Awa selalu menekankan melahirkan itu sakit. Seorang ibu sampai mempertaruhkan nyawanya dan sebagai seorang anak wajib membalas budi dari sang Ibu yang maha mulia itu.

2. Surga terletak di telapak kaki ibu.

3. Seorang ibu adalah orang yang itdak cacat, tidak pernah salah, suci dan berhati mulia.

4. Kuburan sempit dan gelap, hanya satu titik terang saja. Malaikat datang membawa cambuk bertanya dan memukul.

5. Menuju ke surga sangat sulit karena harus melalui jalan yang sangat kecil setipis rambut yang di belah tujuh dan di bawahnya adalah api neraka.

6. Kalau gunting kuku dan menanamkannya di dalam tanah maka akan dihitung sebagai pahala. Orang baru bisa masuk ke surga kalau neraca pengukur lebih berat ke arah pahala.

7. Berjinah akan masuk ke neraka (walau sekali saja)

Hong Eng

Hong Eng:

1. "Si mi mia", Hong Eng menanyai namaku, namun aku ragu untuk menjawab karena oleh Lien Ek, Acim dan Acek di pasar serta ank-anaknya aku dipanggil Kui Ki. Di rumah sebelumnya aku dipanggil Ho An. Kemudian Hong Eng mengadu mama mengejek aku dengan mengatakan "Ace hua gong, lang meng i e mia boi hiau kong"

2. Hong Eng menuduh aku telah menipu orang tuanya ketika A'mm menyuruh aku membeli kelapa parut. Dia lihat sangat kurang. Hong Eng marah, dia tahu aku telah makan uangnya. Dia merasa tidak puas kemudia pergi adu mama dengan marah-marah.

3. Ketika aku masih sanagat kecil Hong Eng selalu mengejek aku 'npe nsek'.

4. Hong Eng selalu mengejek potongan rambutku seperti kepala batok, jang 'ya kok', jelek, setiap kalai aku habis menggunting rambut. Aku jadi merasa diriku jelek.

5. Kasih aku gula-gula mentos dengan membentak

6. Di Sekolahan RA Kartini (SD Teladan) aku menyapa Hong Eng namun dia mengelak menjauhi diriku. Aku merasa dia malu dilihat orang bahwa dia mengenal aku.

Hampir digasak oleh mobil ketika mengajak Aheng jalan-jalan

9) Hampir digasak oleh mobil ketika mengajak Aheng jalan-jalan
· Suatau hari aku punya minat untuk jalan-jalan. Aku mengajak Aheng dan ternyata dia mau ikut juga. Biasanya dia jarang mau ikut aku dan lebih senang berada di dalam rumah bersama mama.
· Kami berjalan melewati belakang melalui rumah Pendek, terus ke atas dan membelok kiri, melaui gang yang jalannya jelek keluar sampai jalan besar, kelok kiri turun untuk menuju/pulang ke rumah lagi. Tanpa aku sadari ada mobil truk besar di belakang menuju ke arah kami. Saat itu aku dan Aheng ada di tengah-tengah jalan masuk perusahaan cap kelinci dekat rumah Herjanto. Aheng berjalan lambat sedangkan aku melihat ancaman bahaya yang datang dari mobil truk besar itu segera mendorong Aheng ke depan karena mobil truk itu sudah sangat dekat di belakang kami. Aheng terjatuh beberapa langkah ke depan, diikuti aku yang berlari beberapa langkah ke depan dan aku lihat mobil truk itu sudah masuk. Sopir truk itu menggasakkan mobilnya untuk menggiling/menabrak kami. Keji nian, jahat nian.
· Telinga Aheng berdarah banyak dan Aheng menangis. Aku jadi takut dan segera membawa Aheng pulang. Melihat Aheng menangis mama datang dan bertanya menagapa telinga Aheng sampai bedarah. Pertanyaan mama bernada intograsi membuat aku takut sebab aku yang besar (lebih besar) selalu dicap salah dari pengalaman-pengalamankku sebelumnya. Aku menjawab bahwa telinga Aheng berdarah karena terjatuh: "pua to na nia teng hia". Mama segera merawat Aheng. Aku juga sangat memerlukan mama saat itu karena shock oleh sopir brutal yang dengan sengaja mau menggilas/membunuh kami berdua dan juga rasa bersalah terhadap Aheng karena merasa karena ajakankulah hal itu terjadi. Aku memerlukan mama untuk menghibur aku, mengurangi shock/trauma dan rasa bersalah dalam diriku. Namun mama hanya memeperhatikan Aheng dan meninggalkan aku.
Erstelldatum 03/06/00 17:17

Di rumah pasat ma aku sering dimarahi oleh Kahar bahwa di dalam diriku ada Mokui, jahat dan busuk hati

26) Di rumah pasat ma aku sering dimarahi oleh Kahar bahwa di dalam diriku ada Mokui, jahat dan busuk hati.

Gambaranku akan Mokui adalah binatang berbulu hitam yang jahat jadi iblis yang jahat yang ada di dalam diriku. Mereka mencap aku mempunyai sifat yang jahat dan diriku tidak disukainoleh mereka, terutama Kahar, dan yang lainnya mengikuti

Sehuat 1: membetet aku dengan karet sakit sekali

16) Sehuat 1: membetet aku dengan karet sakit sekali
· Aku datang ke rumah A'mm seperti biasanya. Sehuat menengok aku dan merasa tidak senang padaku. Pandanganya/pancaran wajahnya tidak menyenangkan sekali. Sehuat tidak menyukai diriku dan mengambil karet membetet aku. Dia membetet aku dan mengenai diriku, sakit sekali. Dia sungguh-sungguh membetet aku. Hampir tidak dapat dipercaya bahwa Sehuat berbuat begitu terhadap diriku, salah seorang yang terpandang oleh mama berbuat begitu rendah. Dia membetet aku sekali, dua kali, perih sekali. Aku merasa takut akan kesadisannya karena merupakan ancaman bahaya bagiku. Aku merasa takut melihat kesungguhannya berbuat sadis terhadap diriku dan pandangannya yang tidak bersahabat. Aku sangat mengharapkan perlindungan dari A'mm, tapi A'm sangat lemah. Mula-mula hanya dengan kata-kata tapi karena Sehuat terus membetet aku lalu A'mm berusaha mengambil karet dari tangan dia, namun dengan gampang Sehuat mengelaknya dan terus mengarahkan betetannya padaku dan membidik aku. Bidikannya bagiku merupakan ancaman bahaya karena bila kena sangat sakit karena dia membetet dengan tenaga orang dewasa. Perbuatan Sehuat itu selain menyakiti tubuhku juga merupakan teror psikis bagiku. A'mm sangat lemah untuk sungguh dapat menolong aku.
· Aku tidak bisa mengadukan perbuatan Sehuat pada mama karena mama tidak ada wibawa di hadapan Sehuat.
Erstelldatum 03/09/00 16:08

Tiga orang piraten merampas jualan pempekku

1) Tiga orang piraten merampas jualan pempekku

· Aku menjual pepempek melewati jalan yang m