Friday, November 03, 2006

Hampir digasak oleh mobil ketika mengajak Aheng jalan-jalan

9) Hampir digasak oleh mobil ketika mengajak Aheng jalan-jalan
· Suatau hari aku punya minat untuk jalan-jalan. Aku mengajak Aheng dan ternyata dia mau ikut juga. Biasanya dia jarang mau ikut aku dan lebih senang berada di dalam rumah bersama mama.
· Kami berjalan melewati belakang melalui rumah Pendek, terus ke atas dan membelok kiri, melaui gang yang jalannya jelek keluar sampai jalan besar, kelok kiri turun untuk menuju/pulang ke rumah lagi. Tanpa aku sadari ada mobil truk besar di belakang menuju ke arah kami. Saat itu aku dan Aheng ada di tengah-tengah jalan masuk perusahaan cap kelinci dekat rumah Herjanto. Aheng berjalan lambat sedangkan aku melihat ancaman bahaya yang datang dari mobil truk besar itu segera mendorong Aheng ke depan karena mobil truk itu sudah sangat dekat di belakang kami. Aheng terjatuh beberapa langkah ke depan, diikuti aku yang berlari beberapa langkah ke depan dan aku lihat mobil truk itu sudah masuk. Sopir truk itu menggasakkan mobilnya untuk menggiling/menabrak kami. Keji nian, jahat nian.
· Telinga Aheng berdarah banyak dan Aheng menangis. Aku jadi takut dan segera membawa Aheng pulang. Melihat Aheng menangis mama datang dan bertanya menagapa telinga Aheng sampai bedarah. Pertanyaan mama bernada intograsi membuat aku takut sebab aku yang besar (lebih besar) selalu dicap salah dari pengalaman-pengalamankku sebelumnya. Aku menjawab bahwa telinga Aheng berdarah karena terjatuh: "pua to na nia teng hia". Mama segera merawat Aheng. Aku juga sangat memerlukan mama saat itu karena shock oleh sopir brutal yang dengan sengaja mau menggilas/membunuh kami berdua dan juga rasa bersalah terhadap Aheng karena merasa karena ajakankulah hal itu terjadi. Aku memerlukan mama untuk menghibur aku, mengurangi shock/trauma dan rasa bersalah dalam diriku. Namun mama hanya memeperhatikan Aheng dan meninggalkan aku.
Erstelldatum 03/06/00 17:17

0 Comments:

Post a Comment

<< Home